KELUHAN warga soal lonjakan tagihan air di Bontang mendapat respons cepat. Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris, turun langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak), Selasa siang, 14 April 2026.
Tanpa pemberitahuan, ia mendatangi dua titik laporan warga: Jalan Kapal Selam 1 RT 18, Kelurahan Loktuan, Bontang Utara, dan Jalan KS Tubun Gang Kerapu II, Kelurahan Tanjung Laut Indah.
Di lokasi, Agus berdialog langsung dengan warga yang mengaku tagihan air mereka melonjak tidak wajar dalam beberapa bulan terakhir.
“Kami tidak ingin hanya menerima laporan. Harus dilihat langsung supaya jelas di mana masalahnya,” kata Agus usai sidak.
Hasil pengecekan menunjukkan, lonjakan tagihan tidak sepenuhnya disebabkan kesalahan pencatatan. Faktor utama justru berasal dari pola pemakaian air.
Banyak rumah tangga diketahui menggunakan satu meteran untuk beberapa kepala keluarga (KK). Dalam sistem tarif PDAM, penggunaan air bersifat progresif. Semakin besar volume pemakaian, semakin tinggi tarif yang dikenakan.
Untuk konsumsi normal, sekira 20 meter kubik per bulan, tagihan umumnya masih di bawah Rp100 ribu. Namun kondisi berubah drastis ketika satu meter digunakan bersama.
“Kalau satu meter dipakai empat KK, total pemakaian bisa tembus 100 kubik. Ini otomatis masuk kategori tarif tinggi,” ujar Agus.
Akibatnya, tagihan melonjak berkali lipat karena sistem menganggap penggunaan tersebut sebagai konsumsi besar atau aktivitas usaha.
Pemkot Bontang bersama PDAM Tirta Taman mendorong warga untuk menggunakan meteran air secara mandiri.
PDAM Bontang pun menawarkan skema pemasangan baru dengan uang muka Rp500 ribu, sementara sisa biaya dapat dicicil hingga akhir tahun.
Menurut Agus, langkah ini justru akan membuat biaya lebih adil dan transparan. “Daripada bayar mahal karena gabung, lebih baik pakai meter sendiri. Pemakaian jelas, tagihan juga sesuai,” katanya.
Meski faktor pemakaian menjadi penyebab utama, Agus menegaskan PDAM tetap harus melakukan pembenahan internal.
Ia meminta petugas pencatat meter bekerja lebih akurat dan tidak sekadar memperkirakan angka.
“Jangan sampai pemakaian turun tapi tagihan tetap. Ini yang tidak boleh terjadi,” tegasnya. [FR]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















