BONTANG, Pranala.co — Di tengah tekanan global untuk menekan emisi, industri mulai mengubah cara pandang. Karbon dioksida (CO2) yang selama ini dianggap limbah, kini dilihat sebagai peluang. Langkah itu mulai diwujudkan.
PT Kaltim Methanol Industri (KMI) bersama Pupuk Kaltim Group resmi mengimplementasikan kerja sama penyediaan suplai karbon dioksida (CO2). Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mendorong pengelolaan karbon yang lebih berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi sektor industri dalam transisi menuju energi rendah emisi.
“Langkah ini juga merupakan dukungan nyata terhadap target pengurangan emisi dalam Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia, sejalan dengan komitmen global melalui Perjanjian Paris,” ujar GA & ER Dept Manager PT KMI, Dekarius Wiyan, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (10/4/2026).
Dalam skema kerja sama ini, KMI berperan sebagai pihak yang menginisiasi pemanfaatan CO2 sebagai bahan baku tambahan untuk meningkatkan produksi metanol.
Sementara itu, PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) menjadi pemasok CO2 yang dihasilkan dari proses produksi amonia. Adapun PT Kaltim Industrial Estate (KIE) menyediakan infrastruktur jalur distribusi di kawasan industri untuk memastikan proses penyaluran berjalan optimal.
Kolaborasi ini menjadi langkah strategis bagi industri, tidak hanya dari sisi operasional, tetapi juga dalam upaya menuju proses produksi yang lebih ramah lingkungan.
“Kerja sama ini sejalan dengan visi kami untuk mendukung energi berkelanjutan dan kehidupan yang lebih baik,” kata Dekarius.
Selama ini, CO2 dari proses produksi amonia di Pupuk Kaltim sebagian telah dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk urea. Namun, masih ada sisa emisi yang belum digunakan secara optimal.
Melalui kerja sama ini, sisa CO2 tersebut akan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku bernilai tinggi, khususnya dalam produksi metanol oleh KMI.
Sekretaris Perusahaan PT Pupuk Kaltim, Anggono Wijaya, menyebut inisiatif ini diproyeksikan mampu mengurangi emisi hingga 27.000 ton CO2 per tahun.
“Karbon dioksida yang sebelumnya dilepas ke atmosfer kini dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku metanol rendah karbon,” ujarnya.
Lebih dari sekadar efisiensi, langkah ini mencerminkan perubahan paradigma dalam industri. Emisi tidak lagi dipandang sebagai beban semata, tetapi sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali.
Upaya ini juga menjadi bagian dari transformasi industri menuju praktik yang lebih hijau, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam mendukung agenda global penurunan emisi. [RIL/ID]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















