HARAPAN warga Bontang Kuala, Kota Bontang, Kalimantan Timur (Kaltim) untuk terbebas dari banjir rob di Jalan Piere Tendean masih belum menemui titik terang. Meski usulan penanganan telah disampaikan ke pemerintah pusat, proyek tersebut belum masuk dalam skala prioritas nasional.
Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menyampaikan bahwa pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Bina Marga telah merespons usulan tersebut. Salah satu opsi yang sempat dibahas adalah pembangunan tanggul di sisi jalan guna menahan air laut.
Namun, keterbatasan anggaran serta pertimbangan teknis membuat rencana tersebut belum dapat direalisasikan dalam waktu dekat.
“Sudah ada respons, tapi memang belum menjadi prioritas. Ini yang terus kami dorong,” ujarnya.
Secara fisik, Jalan Piere Tendean masih terlihat layak. Namun, fungsinya sebagai akses utama warga praktis hilang ketika banjir rob datang.
Air laut yang meluap menutup badan jalan, memutus konektivitas kawasan. Dalam kondisi ini, jalan tidak lagi sekadar infrastruktur, tetapi menjadi penentu aktivitas harian masyarakat.
Dampaknya meluas. Kegiatan ekonomi terganggu, kawasan wisata sepi pengunjung, distribusi barang tersendat, hingga aktivitas pendidikan ikut terdampak.
“Ketika rob datang, anak-anak sulit ke sekolah, aktivitas masyarakat juga terganggu,” jelas Neni.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemkot Bontang tidak hanya menunggu keputusan pusat. Upaya koordinasi terus dilakukan dengan pemerintah provinsi dan pusat untuk mencari solusi bersama.
Namun, jika hingga tahun mendatang belum ada realisasi, Pemkot membuka kemungkinan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), meski ruas jalan tersebut berstatus jalan nasional.
Langkah ini akan ditempuh melalui skema tertentu agar tetap sesuai aturan. “Kalau belum terealisasi, kami akan cari jalan keluar. Yang penting masyarakat tidak terus dirugikan,” tegasnya.
Fenomena banjir rob di Bontang Kuala tidak hanya dipengaruhi pasang surut air laut. Faktor lain seperti perubahan iklim dan penurunan muka tanah turut memperparah kondisi genangan.
Karena itu, penanganan tidak bisa dilakukan secara parsial. Selain pembangunan tanggul, diperlukan solusi terpadu seperti peninggian badan jalan dan sistem drainase yang mampu beradaptasi dengan kondisi pesisir.
Selain kawasan Bontang Kuala, pemerintah kota juga mengusulkan perbaikan ruas jalan lain untuk memperkuat konektivitas wilayah. [fr]
Dapatkan berita terbaru PRANALA.co di Google News dan mari bergabung di grup Whatsapp kami
















